Pelajar SMA Wiguna Diduga Bunuh Diri untuk Kepuasan


Surabaya (beritajatim.com) – Gantung diri yang dilakukan Priyo Agya Rizky Sumantri, pelajar SMA yang tinggal di Perum Wiguna Timur Gang VIII No 31 Kecamatan Gunung Anyar Surabaya, diduga untuk mendapatkan kepuasan seks. Sayang, peristiwa pada Kamis (16/2/2017) itu belum mencapai klimaks.

Kaur Inafis Tim Identifikasi Polrestabes Surabaya, Aiptu Pudji Harjanto, menjelaskan, selama delapan jam melakukan olah TKP, termasuk pemeriksaan jenazah di kamar mayat RSUD Dr Soetomo, Surabaya, ditemukan fakta yang mengarah kalau korban diduga mengalami asphyxiation autoerotic.

Fakta dan analisa pertama, kata Pudji, kejadian ini adalah murni gantung diri. Tetapi, hal yang dilakukan tidak seperti kejadian bunuh diri pada umumnya. “Bunuh dirinya korban ini penis terikat tali dan testis serta beberapa bagian tubuh lainnya sebelum gantung diri ini, sering ditemui pada kasus asfiksia (asphyxiation) autoerotic,” kata Pudji, Jumat (17/2/2017).

“Kasus ini hampir sama dengan yang terjadi di Tenggilis Surabaya pada 2005/2006. Tubuh korban diikat dengan kain sarung dengan posisi ketarik ke belakang. Sementara tangan memegang remote TV dengan memutar film blue,” sambungnya.

Kematian autoerotic ini, lanjut dia, didefinisikan sebagai suatu kematian yang tidak disengaja (accidental) yang dilakukan bukan untuk menyakiti diri sendiri. Tetapi untuk mencapai kepuasan karena adanya suatu kelainan seksual.

“Kelainan seksual ini bisa dilakukan dengan cara pengantungan, penjeratan, plastic bag asphixation, elektrofilia, dan anestesiofilia, yang mana pada saat terjadi hipoksia dapat meningkatkan kepuasan seksual pada korban,” lanjut Pudji.

Kematian autoerotic, masih kata penulis Buku TKP Bicara ini, biasanya disebabkan oleh gagalnya penyelamatan diri sendiri pada saat korban melakukan perangsangan seksual yang tidak lazim.

Kesimpulan itu sendiri merujuk pada hasil olah TKP, yang mana korban ditemukan tergantung di balik pintu samping yang terkunci dari dalam. “Jarak dari pintu ke korban sekitar 90 sentimeter. Kemudian pintu utama rumah dalam keadaaan terkunci dari dalam dengan anak kunci masih menancap di lubangnya. Semua jendela juga dalam keadaan terkunci dari dalam,” kata Pudji.

Selain itu, di tubuh korban juga terdapat lebam mayat, pada kedua kaki dan telapak korban. “Lidah terjulur keluar, wajah tampak membengkak lebih gelap kemerahan. Maka analisanya, korban seorang diri di dalam rumah dan tidak ada orang lain keluar masuk sejak pintu rumah dikunci dari dalam,” ucapnya.

Menurut Pudji, kondisi tubuh korban yang tergantung dalam kondisi telanjang ini, sering ditemui dalam kasus bunuh diri. “Namun, tidak ditemukan silent dead atau pesan kematian, yang umumnya ditemukan dalam kasus-kasus bunuh diri,” tandasnya. [gil/suf]

(Beritajatim)

[161699]

Facebook Comments